Rabu, 06 Mei 2009

Kiamat : Klaim Semu

Dalam salah satunya haditsnya Rasulullah saw bersabda, "Aku diutus, sedangkan dekatnya kiamat seperti dekatnya dua jari ini (seraya Rasul memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dengan posisi berdempet)." Dalam hadits yang lain diterangkan bahwa umat Nabi Muhammad saw telah berada diwaktu ashar yang sudah hampir senja. Begitulah umat Nabi Muhammad saw yang berada dipenghujung zaman.

Sudah sedemikian dekatkah kiamat? Pertanyaan yang siapapun saja tidak akan bisa menjawabnya. Kecuali Allah Swt Yang Maha Tahu.

Hanya tentang kiamat ini Al-Qur'an telah banyak memberi informasi situasinya. Seperti ayat "Apabila bumi digoncangkan dengan sekeras-kerasnya, dan gunung-gunung dihancurkan selumat-lumatnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan." (QS. 56:4-6), juga ayat "Ketika bumi digoncangkan sekeras-kerasnya, dan bumi mengeluarkan semua isinya, manusia bertanya: 'Mengapa menjadi begini?', dihari itu bumi akan menceritakan beritanya bahwa Tuhanmu telah memerintahkan seperti itu." (QS. 99:1-5), dan ayat "Wahai manusia, insyaflah pada Tuhanmu, bahwa goncangan Sa'ah itu adalah sesuatu yang amat dahsyat." (QS. 22:1). Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mengisahkan tentang prahara hari kiamat ini.

Tentang asyrathus sa'ah (tanda-tanda kiamat) hadits pun sangat banyak yang menjelaskan. Ada hadits yang menjelaskan awal mula terjadinya kiamat adalah keluarnya matahari dari ufuk barat, ada yang menjelaskan dimulai dengan keluarnya 'seekor hewan' yang bersamaan dengan Dajjal, ada yang dimulai dengan turunnya Imam Mahdi al-Muntadhar, dll. Tentang Al-Mahdi ini Ibnu Khaldun telah melakukan penelitian mendalam terhadap hadits-hadits yang berkenaan.

Yang paling tidak dimengerti dan membuat resah adalah banyaknya statemen-statemen tentang kiamat akhir-akhir ini. Masih ingatkah kita kasus Sekte Kiamat yang menamakan diri dengan Pondok Nabi di tahun 2003, yang mengatakan bahwa kiamat akan terjadi pada 10 November 2003? Atau masih ingatkah kita akan kasus tersebarnya isu bahwa pada tanggal 9 bulan 9 tahun "99 akan terjadi kiamat, karena saat itu posisi bumi terletak satu garis dengan benda langit lainnya dan menyebabkan gravitasi berganda?

Memang statemen kontroversi semacam ini sudah bukan barang baru lagi dalam dunia Islam. Dalam sejarah Islam sudah banyak tercatat 'orang-orang berani' seperti ini. Tercatat As-Suhaili yang mengatakan umur dunia hanya 500 tahun setelah hijrahnya Nabi Muhammad saw. Ya'qub ibn Ishaq, seorang yang dikenal ahli ilmu bintang ini mengatakan bahwa umur dunia hanya 693 tahun setelah hijrah. Syadzan al-Balkhi mengklaim 320 tahun setelah hijrah. Naufil al-Rumi yang hidup pada masa pemerintahan Bani Umayyah mengatakan 960 tahun. Dan Jaras mengklaim hitungan yang sama dengan Naufil.

Dari semua klaim tentang hancurnya dunia di atas sudah jelas-jelas salah. Karena hitungan yang mereka yakini hingga detik ini sudah terlewat sembilan abad. Hal ini juga ditegaskan oleh Syekh Thanthawi Jauhari bahwa prediksi semacam itu hanyalah perhitungan yang semu (takhmin wa takhyil).

Wacana terbaru saat ini adalah klaim James Scotti dari Universitas Arizona yang telah mengamati asteroid XF 11 dengan melalui teleskop 36 inci pada 06 Desember 1997. Dia menyatakan bahwa kemungkinan XF 11 untuk menghatam bumi terjadi pada tahun 2028. Sedangkan menurut perhitungan pada tanggal 23 Maret 1998, posisi terdekat asteroid XF 11 pada 26 Oktober 2028 adalah 600.000 mil atau sekitar 954.340 km dengan kecepatan mendekati 13.914 km/detik. Perhitungan ini dilakukan oleh Donald K. Yeomans dan Paul W. Chodas, seorang astronom NASA yang khusus melakukan prediksi garis orbit komet, asteroid, planet dan benda angkasa lain di bawah sistem tata surya matahari dengan bantuan komputer.

Jadwal kedatangan Asteroid XF 11, -menurut mereka- adalah pada 26 Oktober 2028 sore pukul 13.30 waktu pantai timur AS (atau 01.30 dini hari WIB). Saat itu, NEO (Near Earth Object), yaitu XF 11 sudah berada pada jarak 26.000 mil atau bisa lebih dekat lagi! Dan membenturnya XF 11 pada bumi ini merupakan alamat buruk bagi penduduk bumi.

Ketika XF 11 menabrak bumi kecepatannya diperkirakan mencapai 45.000 km per jam atau setara dengan 100 kali kecepatan peluru yang ditembakkan! Apakah ini yang akan menyebabkan kiamat? Mungkin tidak, mungkin ya!

Di tempat lain, ditemukan sebuah kajian yang sama sekali bertolak belakang dengan hasil penelitian James Scotti di atas. Kajian ini ditemukan oleh Agus Musthafa. Agus Musthafa dalam bukunya, Ternyata Akhirat Tidak Kekal mencantumkan hasil riset bahwa umur alam ini adalah 30 miliar tahun. Klaim ini didapat dari penafsiran terhadap firman Allah yang menjelaskan tentang penciptaan alam semesta yang memerlukan waktu 6 hari. Dan waktu 6 hari ini dalam ilmu astronomi memiliki kadar 30 miliar. Jadi, sekarang umur alam semesta masih 12 miliar tahun. Maka, alam ini masih akan terus berkontraksi selama 18 miliar tahun lagi. Otomatis penafsiran ini juga berimplikasi bahwa penciptaan alam semesta hingga detik ini masih belum selesai, karena untuk mencapai waktu 30 miliar tahun masih kurang 18 miliar tahun lagi. Maka, diperkirakan kiamat akan terjadi sekitar 18 miliar tahun lagi (!)

Yang menarik dari tulisan Agus Musthafa ini adalah gaya menafsiri 6 hari penciptaan alam semesta yang berakhir dengan kesimpulan "penciptaan alam hingga sekarang masih belum selesai!" Sayangnya, klaim ini tidak disertai dengan landasan-landasan kuat dari pendapat mufassirin tentang 6 hari penciptaan alam tersebut.

Nah, sepertinya perbedaan hasil riset ini lebih menjauhkan lagi panggang dari api; klaim yang semula menjadi keyakinan, justeru menjadi aktifis 'penyumbang kebingungan'. Ini semua tanda bahwa sains berada dalam "daftar tanpa nomor" dalam kamus keyakinan (i'tiqad) setelah al-Qur'an dan hadits Rasul, serta yang terpenting, klaim-klaim yang baru ini juga sama dengan pernyataan Syekh Thanthawi Jauhari; "sebuah klaim semu." Ini adalah bukti hadits bahwa ilmu perbintangan adalah ilmun la yanfa' wa jahlun la yadhurr (ilmu yang tidak banyak bermanfaat dan tidak tahu pun tidak jadi masalah), sebagaimana yang dikutip Al-Ghazali dalam Ihya-nya.

Di terakhir pembahasan ini ada baiknya dikutip sebuah perkataan Sufyan ibn 'Uyainah yang ditulis oleh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur-nya serta diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Hatim bahwa setiap ayat yang diawali dengan kalimat ma yudrika adalah sebuah hal yang dirahasiakan oleh Allah. sedangkan setiap ayat yang diawali wa ma adraka berarti hal yang telah Allah kabarkan kepada Nabi Muhammad saw (bukan rahasia). Dan lafadz Sa'ah (kiamat) dalam al-Qur'an memakai ma yudrika. Allahu a'lam.

Cobaan Umat Karena Abaikan Sholawat

22 Mar 2006 Oleh sufinews -Tragedi demi tragedi ditunai ummat Islam, mulai dari bencana dimana-mana hingga, ketika negeri-negeri Islam diserang oleh AS dan sekutunya, lalu berujung pada penghinaan terhadap Nabi. Karikatur, relief, gambar Nabi, telah meruyak kemarahan ummat seluruh dunia.

Negeri-negeri Islam yang membujur di belahan selatan dunia, yang dikategorikan negeri miskin, di tengah arus globalisasi, semakin termiskinkan. Kekalahan structural dalam berbagai piranti, infrastruktur, dan teknologi telah membuat ummat Islam hanya menjadi sasaran konsumen negara-negara industri. Belum lagi Mafia yang menguasai separo aktivitas internasional, yang menghalalkan segala cara.

Kemudian Ummat terbelah menjadi kekuatan-kekuatan, kelompok-kelompok, kebudayaan-kebudayaan, tidak jarang satu sama lain saling tarik menarik dan bertentangan. Ada yang merespon kekuatan global dengan ekstrimitas dan radikalisme, ada yang merespon dengan integralisme dan adaptasi dengan globalisasi, ada yang merespon dengan sikap moderat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar Islam, ada yang merespon dengan ketakberdayaan mengikuti arus dengan sikap acuh tak acuh atas perkembangan planet bumi. Tapi peta tersebut sangat menarik bagi dunia luar untuk memposisikan ummat Islam di seluruh dunia sebagai obyek, bukan sebagai subyek yang positif bagi masa depan umat manusia.

Tetapi mari kita jenguk kondisi ummat kita sebenarnya. Tahun-tahun seperempat abad terakhir, ummat Islam mengalami sock yang luar biasa, antara modernisasi, tradisi, dan nilai-nilai agama. Diantara korban-korbannya adalah spiritualitas ummat yang mencapai titik jenuh luar biasa, sampai akhirnya terekspresikan dalam berbagai aktivitas yang cukup menyimpang dan mengerikan: Gerakan spiritual yang mengatasnamakan gerakan ruhani Islam, seperti munculnya lembaga-lembaga atau perorangan yang menjanjikan "Puncak Spiritual" melalui aktivitasnya. Ternyata, tidak lebih dari aktivitas metafisika, mistik, dan keparanormalan yang dibungkus dengan nuansa dzikir, ilmu-ilmu hikmah tertentu dan lebih sadis lagi menggunakan singkretisme kebatinan semua agama dalam satu format spiritual.

Dampaknya, ummat kehilangan nuansa genial yang murni dan hakiki, yang selama ini dikokohkan oleh para Sufi dari zaman ke zaman mulai sejak era Nabi Muhammad SAW. hingga dewasa ini. Dua pendulum yang kontra dan meruyak aktivitas luhur dunia ruhani kaum Sufi bermunculan: Mereka ramai-ramai mengobarkan semangat anti sufisme, karena dianggap bid'ah di satu sisi, dan di sisi lain muncul kelompok penyimpang tasawuf yang mengatasnamakan dunia Sufi.

Dua kelompok anatagonis inilah yang pada saat bersamaan, merasa paling Islami dan paling benar, dan di saat yang lain meruntuhkan semangat kecintaan kepada Allah dan Rasululullah SAW, dalam arti yang sesungguhnya, bukan dengan cara emosi, reaksi dan arogansi.

Lalu semangat yang hakiki mengenai Mahabbatullah dan Mahbbatur-Rasul terbuang dalam arus pembelaan yang bernuansa pinggiran, tidak masuk dalam jantung hati yang sesungguhnya.
Sahara Kegersangan

Mari kita jenguk jendela kita semua, agar melihat ruang batin di kedalaman jiwa kita. Benarkah kita telah membuktikan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Benarkan kita telah mendenyutkan jantung kita setiap saat, setiap waktu, setiap ruang dan gerak, bersama dzikrullah dalam hati kita? Seberapa persen jumlah ummat Islam seluruh dunia yang melakukan aktivitas mulia dalam jiwanya? Apakah aktivitas mulia itu hanya dilihat dari yang tampak dipermukaan dalam "teater ummat Islam"? Dalam "Gaya hidup beragama"? Dalam "sok religi" atau "Style Islami" di media massa dan kepentingan-kepentingan riya’ politik? Kenapa tidak ada upaya untuk menjenguk kegersangan demi kegersangan yang menimpa jiwa ummat ini?

Rupanya ummat seperti kehilangan induk ketika berada di Padang Mahsyar. Gerakan demi gerakan, tak lebih dari sebuah kebingungan, keresahan dan ketakutan. Di hamparan Mahsyar ummat mencari Syafaat, dari satu Nabi ke Nabi lain, lalu berujung pada Nabi Muhammad SAW. Itulah fakta hari ini, pencarian cinta kepada Nabi di tengah kegersangan Mahsyar Dunia, dalam kegundahan luar biasa. Lalu muncul berbagai image, dalam bebagai bentuk, antara lain:

1. Dengan menyatakan sebagai pembela Nabi SAW, tetapi tidak mencintai Nabi SAW, dalam arti yang hakiki.
2. Menyatakan sebagai pembela ahlul Bait sebagai ideology dan organisasi saja.
3. Memanggil-manggil Nabi dengan jeritan-jeritan sebagai aktivitas spiritual, dan menganggapnya sebagai puncak spiritual.
4. Merasa mendapatkan wahyu dari malaikat, lalu mengaku sebagai Nabi Baru, yang selaras dengan Nabi Muhammad saw.
5. Memanfaatkan simbol-simbol Kenabian sebagai gerakan massal, yang akhirnya berujung pada ekonomi dan politik.
6. Merasa paling dekat dengan Nabi, lalu dijadikan symbol spiritual, hanya karena nasab dan keturunan.
7. Merasa paling Islami dengan cara meniru gaya hidup lahiriyah Nabi, Syariat Nabi, sementara Qalbu Nabi, Hakikat Islam, Ruhul Islam, tidak dijadikan teladan, akhirnya hanya menuai kefasikan dan kegersangan hati.
8. Dan kalau terurai sebenarnya ada 72 kelompok Islam yang merasa telah benar meneladani Nabi, ternyata jauh dari keselamatan dan kebenaran.

Elemen kelompok itu hanyalah ilustrasi, yang bisa kita jadikan pelajaran paling berharga. Faktanya, kelompok-kelompok itu tidak mencintai Nabi dalam arti sesungguhnya, sehingga Syafaat Nabi untuk ummat Islam di dunia, tidak bisa mereka terima secara total sebagaimana di suasana di padang mahsyar kelak.

Coba dikalkulasi dalam statistik. Berapa persen dari jumlah ummat seluruh dunia yang masih terus membaca sholawat Nabi setiap harinya? Berapa kali setiap hari mereka membaca sholawat Nabi? Apakah sholawat Nabi hanya dibaca setiap kita sholat, karena dalam sholat ada bacaan sholawat? Apakah sholawat Nabi hanya dibaca ketika ada maulid Nabi? Apakah sholawat hanya jadi nyanian-nyanyian dan ekspressi seni dan hiburan, sebagaimana dalam gerakan musikalisasi sholawat?
Benarkah bibir anda menggetarkan sholawat sepanjang saat? Benarkah "rasa" sholawat telah menghujam dalam kecintaan luhur di jantung hati anda? Benarkah anda merasakan kedekatan Nabi dengan diri anda, seakan-akan Nabi di hadapan anda? Apakah anda mencintai sekadar sebagai statemen, pengakuan, lips service, atau memang sampai pada kecintaan dalam keyakinan, haqqul yaqin di hati?

Mari kita mengingat apa yang dikatakan Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitab Al-Hikam, "Apa yang muncul dalam fenomena lahir sesungguhnya akibat dari fenomena batin."

Jika batin kita tidak mencintai Nabi, atau sekadar "beban kewajiban" saja bersholawat Nabi, maka yang muncul di fenomena lahiriyah hanyalah kecintaan plastik yang palsu atas Nabi SAW. Jika hati kita tak pernah beruntun mendetakkan sholawat Nabi, maka sholawat yang kita ungkapkan pada Nabi hanyalah ekspressi kering dari bibir kita yang tak pernah basah dengan dzikir dan sholawat.
Jangan sampai kita merasa dekat dengan Nabi, tapi hati kita jauh dari Nabi.

Jangan sampai kita merasa membela Nabi, tapi jiwa kita tidak pernah sholawat Nabi.
Jangan sampai kita berharap sholawat Nabi, tapi sesungguhnya kita tidak pernah menaruh rasa hormat dalam jantung hakiki.
Jangan sampai sampai kita merasa meneladani Nabi, tapi kesombongan, riya', pengakuan-pengakuan menjadi gaya hidupnya yang dibungkus ke-Islamannya untuk menyembunyikan kemunafikannya.

Jangan sampai anda merasa memakai baju-baju, ornament, life style, seperti Nabi, namun sesungguhnya baju hakiki, ornament jiwa, life style ruhani yang sesungguhnya compang camping di jiwa anda.

Jika hal itu tetap ada pada diri anda, maka cobaaan demi cobaan di Padang Mahsyar dunia ini, senantiasa merobek sejarah kita, mengoyak kemuliaan Nabi, merobohkan istana yang sesungguhnya dalam jiwa kita. Inna Lillahi wa-Inna Ilaihi Roji'un.

Mari kita gerakkan jantung kita, bersama Allah dan RasulNya, kapan, dimana, bagaimana, dalam kondisi apa, dalam situasi apa, agar syafaat beliau melimpah dengan Cahaya, dan kita saksikan bersama "Tidaklah Kami mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta…" . Amin.

Menghitung huruf Al-Qur'an

Gairah intelektualitas para Ulama masa lalu memang membikin kita mengeleng-gelengkan kepala. Banyak kita jumpai karya-karya spektakuler yang jarang kita dapatkan pada zaman ketika gairah intelektualitas umat Islam menurun. Terkadang sesuatu yang kita tidak anggap penting, namun ternyata tidak luput dari ide-ide kreatif yang mereka ciptakan.
Dan ternyata hal-hal yang dianggap tidak penting itu memiliki tempat khusus di dalam hati para generasi berikutnya. Bahkan, juga kadang menjadi data penting yang cukup jarang diketahui. Karena tidak jarang, walaupun masa ini telah ditopang dengan kecanggihan teknologi, ternyata masih harus pasrah hanya dengan gelengan kepala, mengingat situasi teknologi zaman dulu masih tidak secanggih saat ini.
Salah satunya hasil penelitian seorang sekaliber Imam an-Nasafi yang meneliti jumlah huruf dalam kitab suci al-Qur?an!.
Kalau yang dihitung adalah jumlah surat atau kalimat, masih mending. Tapi kalau menghitung jumlah huruf, cukup ruwet juga, 'kan? Dan ternyata itu yang dilakukan oleh an-Nasafi.
Hasil penelitiannya ini ditulis dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathli?u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ?Arabi dalam mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah karangannya sendiri. Berikut ini uraiannya dan huruf-huruf diurut sesuai dengan banyaknya: Alif : 48740 huruf, Lam : 33922 huruf, Mim : 28922 huruf, Ha? : 26925 huruf, Ya? : 25717 huruf, Wawu : 25506 huruf, Nun : 17000 huruf, Lam alif : 14707 huruf, Ba? : 11420 huruf, Tsa? : 10480 huruf, Fa? : 9813 huruf, ?Ain : 9470 huruf, Qaf : 8099 huruf, Kaf : 8022 huruf, Dal : 5998 huruf, Sin : 5799 huruf, Dzal : 4934 huruf, Ha : 4138 huruf, Jim : 3322 huruf, Shad : 2780 huruf, Ra? : 2206 huruf, Syin : 2115 huruf, Dhadl : 1822 huruf, Zai : 1680 huruf, Kha? : 1503 huruf, Ta? : 1404 huruf, Ghain : 1229 huruf, Tha? : 1204 huruf dan terakhir Dza? : 842 huruf. Jumlah total semua huruf dalam al-Qur?an sebanyak satu juta dua puluh tujuh ribu. Jumlah total ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nusakh.

Akal tidak membawa Kebahagiaan

KH. Masbuhin Faqih
Pengasuh Pondok Pesantren
Mamba'us Sholihin


Sebagai seorang muslim yang mukmin, kita harus memahami bahwa kita adalah hamba Allah s.w.t, mengabdi kepada-Nya. Sebagai seorang hamba kita harus mematuhi dan menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Mematuhi segala titah-Nya dengan sami’na wa atho’na, dan tidak boleh membantah sedikitpun, kerena Allah sebagai pencipta, memegang otoritas tertinggi dalam kehidupan ini.

Di sinilah letak kehambaan kita diuji, apakah kita termasuk hamba Allah yang taat atau hamba yang maksiat kepada-Nya. Apakah kita termasuk hamba yang bintang atau hamba yang binatang, batasannya terletak pada ketaatan dan kepatuhan kita. Bila kita patuh dan taat kepada Allah, menjalankan syariat Islam, maka kita termasuk hamba yang menyadari tentang kemanusiaan dan kehambaan kita. Namun sebaliknya, bila kita selalu berbuat maksiat kepada-Nya, dan tidak menjalankan syariat-Nya, maka kita termasuk seorang yang belum menyadari tugas dan fungsi kita sebagai hamba dan manusia di dunia ini. Bahkan oleh Allah, mereka yang mengabaikan tugasnya sebagai manusia dan hamba. Maka, ia tak lebih dari seekor binatang.

Dunia tak lebih hanyalah sebuah penjara bagi kehidupan orang mukmin. al-Dunya sijnu al-mukmin. Selain mukmin, kebebasan dunia adalah miliknya. Bila ada seorang mukmin melakukan kebebasan tanpa batas, maka perlu dipertanyakan kemukminannya.
Aturan-aturan agama menjadi pengikat bagi terarahnya kehidupan umat muslim, menuju kehidupan Islami. Begitu indahnya hidup ini bila semuanya tertib. Islam sungguh memperhatikan kehidupan para hambanya, seluruh lini kehidupan dan kreatifitas manusia sehari-hari telah diatur dalam ajaran-ajaran Islam. Hal ini untuk membimbing mereka menuju ke arah kehidupan yang tertib dan teratur. Justru dengan aturan itulah manusia dituntut untuk menuju hidup bahagia.

Namun, banyak orang yang beranggapan keliru, bahwa dunia ini bebas, sebebas akal kita menjangkau. Sejauh ini tindakan itu rasional, logis, masuk akal, maka tindakan itu benar menurut manusia.

Perlu diketahui, bahwa akal manusia ada batasnya, orang tak selamanya mampu menjangkau rahasia di balik perintah Allah yang manusia sendiri lemah untuk melacaknya. Banyak sekali perintah Allah yang mereka sendiri tak mampu mencari kemanfaatannya.

Siapapun mengetahui Umar bin Khattab, betapa cerdas dan jenius serta teguh dalam memegang prinsip. Tak mudah menggoyahkan keteguhan Umar. Namun suatu saat ia melakukan sebuah pekerjaan remeh yang baginya tak masuk akal: mencium Ka'bah, namun tetap dilakukannya. Mengapa?, karena patuh pada rasul, seorang pemegang otoritas syariah. Umar si cerdik cendikiawan itu luluh karena ia tahu bahwa yang dilakukan rasul adalah benar. Dan itu adalah wahyu, di balik Ka'bah itu tersirat sebuah rahasia yang Umar sendiri tak tahu jawabannya. Sehingga dengan nada setengah menolak dia mengatakan: “Andaikan bukan rasulullah yang menyuruh, aku tidak akan melakukannya.”

Kisah di atas memberi kesimpulan: kebebasan rasional tak selamanya dapat dibenarkan. Kebebasan akal akan dipengaruhi oleh aturan agama, syariah dan ajaran-ajaran Allah. Akal tidak dapat mencarikan jawaban bagi sirriyah (kerahasian) aturan-aturan Allah, yang sebab itu akal harus tunduk kepada ajaran agama.

Itulah Islam, yang tunduk dan menyerahkan sepenuhnya kepada aturan-aturan Allah. Termasuk juga memasrahkan akal menurut apa kata Tuhan. Karena keterbatasan akal itu, Allah mengutus seorang rasul. Fungsinya: menjelaskan ajaran-ajaran Allah, menjawab pertanyaan yang datang dari umat menusia mengenai problematika agama yang melilit kehidupannya. Karena keterbatasan akal itu, janganlah sekali-kali mengagungkannya.
Akal, dalam persoalan kehidupan harus diletakkan setelah al-Quran dan Hadist.

Menomor satukan akal berarti mengultuskan kesemuannya. Karena akal memang bersifat semu, yang benar hanya ajaran-ajaran agama. Apalagi bila sadar akan pertanggung jawaban kelak di akhirat, di mana segala perbuatan manusia akan dihisab oleh Allah.
Semua telah mafhum bahwa kelak akan ada kehidupan lagi setelah kematian. Pada fase kehidupan itu seluruh manusia akan memberikan catatan-catatan kehidupannya, mencari pertolongan masing-masing. Dan hanya syafaat dari kekasih Allah yang mampu menolongnya dari jurang neraka.

Di sinilah letak penggantungan amal kita kepada para rasul, sahabat dan kekasih Allah. Mengikuti mereka berarti berupaya mengharapkan syafaatnya kelak, akal kita hanyalah representasi dari nafsu. Mengikut akal (dengan melampaui ketetapan Allah) berarti membawa ke arah kesesatan, karena ia nafsu. Bukan kebahagiaan, karena kebahagiaan dapat diraih kelak ketika syafaat para kekasih Allah diturunkan kepada kita melalui kepatuhan sam'an wa tho’atan, ketundukan kita pada ajaran rasulullah dan sahabat yang kita kenal dengan ahlus sunnah wal jama'ah. Sekarang terserah diri masing-masing, tapi ingat: Akal tidak mampu membawa kebahagiaan.

AL MUNFIDAH

Organisasi shalawat yang berdiri pada tahun 2007 lalu, Tepatnya di desa Beji-Pakal-Surabaya. Yang didirikan oleh remaja-remaja alit islam yang terbentuk dalam kelompok ”Islamic Boys” Yang pimpinan/diasuh oleh AL USTADZ JUFRI yang merupakan murid/santri dari KH. RIDWAN YASIN Pengasuh ponpes Darussholihin dari JAWA TENGAH.

Awal mulanya terbentuknya organisasi ini disebabkan oleh semakin hilangnya kegiatan-kegiatan keagamaan di desa Beji, dan sudah banyaknya remaja-remaja senior yang sudah tidak aktif lagi di dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, dan kurangnya support dari seluruh warga desa Beji. Disamping itu juga rusaknya akhlak-akhlak sebagian remaja di desa Beji antara lain ; minum-minuman keras/mabuk, judi, tidak ada sopan-santun dll. Dan itu semua berlangsung cukup lama (vacuum).

Dengan kondisi yang seperti itu, kami “Islamic Boys” yang dipimpin langsung oleh Ustadz Jufri mendirikan Organisasi Shalawat Modern yang bernama

AL-MUNFIDAH yang tidak lain adalah dimaksudkan supaya memberikan faedah untuk desa kami yang tercinta ini yang sudah lama vacuum dengan kegiatan-kegiatan keagamaan dan agar dapat memberikan angin segar pada desa kami,

Meskipun banyak sekali hambatan dan rintangan yang menghadang, kami tidak akan mundur untuk mensyiarkan agama dijalan Allah. Dengan ridho Allah SWT dan persatuan, kesatuan, kebersamaan, kegigihan yang kita jalin “Pasukan Islamic Boys”, dan dengan hambatan dan rintangan yang kita hadapi akhirnya kita dapat mengambil pelajaran besar dari kejadian itu, Akhirnya terbentuk tim yang sangat solid untuk berdakwah di jalan Allah lewat tembang-tembang yang kami lantunkan bersama AL-MUNFIDAH.

Alhamdulillahirabbil ‘Alamiin, Dengan terbentuknya AL-MUNFIDAH di tengah-tengah warga desa Beji memberikan kontribusi yang sangat baik bagi seluruh elemen masyarakat. Dan beji yang sebelumnya tenggelam akan kegiatan-kegiatan keagamaannya kini bisa bangkit kembali seraya merpati yang lepas dari sarangnya yang terbang bebas di jagad raya. Yang dulunya remajanya mabuk, judi, tidak ada sopan-santun dsb. Kini sudah banyak yang ingat kepada Allah SWT.

Dan nama AL-MUNFIDAH sudah semerbak wangi, sewangi minyak kasturi di kancah dunia musik shalawat DI JAWA TIMUR.

Sedikit tentang asal-muasal AL-MUNFIDAH ini, mudah-mudahan dapat memberikan motivasi kepada sahabat-sahabat semua untuk selalu mensyiarkan agama Allah di atas bumi ini dengan penuh semangat……OK!!!